Langsung ke konten utama

#DIKSI, Kerinduan yang Berakhir.

Sore kali ini berbeda.
Ditengah rasa suntuk yang melanda usai bekerja, aku tidak langsung melangkah pulang.
Kakiku berjalan menyusuri ibu kota.
Iya, Jakarta. Kota yang penuh akan kenangan kita.
Di mana biasanya kamu yang menggenggam tanganku saat menyebrang jalan,
Merangkul bahuku ditengah ramainya persimpangan, yang katamu waktu itu “Biar tidak hilang”
Ah! Ada-ada saja kamu waktu itu.

Aku kembali lagi ke tempat bersejarah di Jakarta. Kota Tua.
Kota yang bersejarah bukan hanya untuk ibu kota tapi juga kita.
Aku kembali menyambagi tukang kerak telur di depan kafe batavia, menaiki sepeda memutari halaman museum, serta membeli es selendang mayang di samping pohon rindang, yang dulu pernah kita duduki dengan riang.

Tapi kini semuanya berbeda, aku berjalan sendirian tanpa ditemani teman atau secangkir kopi hitam, yang selalu berakhir ditenggorokanmu. Yang dulu selalu bilang “Kafein tidak baik untuk lambungmu”
Selesai di kota tua, aku kembali meneruskan jalan, kali ini tanpa tujuan.
Aku kembali diberhentikan di persimpangan, tapi tak kunjung juga kupilih sebagai jalan.

Aku bingung.
Perasaanku gamang.
Hatiku tak tenang.
Pikiranku melayang, ragaku bak didasar jurang.
Rindu ini terlalu menggebu, mencari celah dijalan buntu.
Kuharap dapat menemukan dirimu, tapi yang kudapat hanyalah bayangan semu, hasil imajinasiku.

Lalu, bagaimana caranya aku bangkit?
Bagaimana lagi aku harus menunggumu?
Apa solusinya!? Coba beritahu aku!
Mungkin untukmu yang katanya rehat adalah jalan keluar terbaik.
Tapi tidak denganku. Untukku, daripada rehat, lebih baik total istirahat. Karena sesuatu yang nanti akan terjadi tidak selalu sesuai dengan harap.
Terlebih kau dan aku yang kini sudah terpisah oleh jarak, bukan tidak mungkin kata kita diantara kita akan lebur begitu saja dengan senyap.
Pernah tidak kamu berpikir sampai di situ? Kurasa jawabannya akan sama “Tenang saja, aku pasti kembali”
Alah, omong kosong! Bahkan sampai janji kau pulang hari ini, tidak pernah lagi kulihat batang hidungmu di sini.

Suara klakson kendaraan kembali membawaku pada dunia yang kini tak lagi diisi oleh kita, aku dan kamu. Tapi hanya aku.
Kutatap sendu lampu jalan yang satu persatu menyala, seakan sedang menghiburku dengan cahayanya yang menurutku kelabu.
Kucoba pejamkan mata agar dapat melupakan rindu.
Namun yang terjadi, rindu justru mencekik diriku, hingga kusadar bahwa menunggumu sudah menghabiskan banyak waktu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#CERPEN, Jogja dan Kenangan serta Apa Arti Pulang

            Awan hitam berkumpul pada langit Jakarta dini hari. Aku berjalan menyusuri lorong Stasiun Pasar Senen menuju percetakan tiket boarding pass. Setelah drama yang panjang, akhirnya aku bisa mengambil cuti. Menjadi kacung di Jakarta sejatinya bukanlah sebuah impian tapi kini menjadi pilihan yang dijalankan.             Persiapan keberangkatan Kereta Bengawan dengan tujuan akhir Stasiun Wonosari akan diberangkatkan pukul 06.00 WIB.             Intruksi petugas membuatku bangkit dari kursi tunggu, ku lihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri ku, pukul 05.40 artinya masih ada waktu 20 menit lagi sebelum keberangkatan. Aku memasuki Gate 3 menyerahkan tiket juga kartu identitas disusul mencari gerbong kereta 6 seat 3D, tepat disamping jendela. Spot favoritku.       ...

#CERITAKU, Kesalahan untuk Pengalaman

Seperti biasa jika ada waktu senggang, setiap hari minggu gue usahain untuk ikut kajian di daerah kota tempat tinggal gue sendiri, ya Bekasi. Hari ini gue ikut 2 kajian sekaligus dengan pemateri dan materi yang berbeda namun di tempat yang sama, tapi hari ini menurut gue hetic banget selain emang udah niat buat datang kajian, gue dapat kabar kalo gue lolos seleksi interview buat jadi komite salah satu komunitas hijab di Bekasi, jangan ditanya rasanya gimana, udah pasti gue seneng banget tapi disisi lain gue ngga mau menyia-nyiakan ilmu yang akan gue dapat dari 2 kajian ini. Okay gue puter otak berusaha buat manage waktu gimana pun caranya semuanya harus bisa terlaksana. Oke paginya gue usahain sebelum berangkat kajian, tugas rumah harus udah beres. Oke mungkin kalian bingung dimana letak heticnya . Gue ceritain nih tepat pukul 08.30 gue udah rapi, gue coba hubungi temen gue yang mau berangkat bareng, gue whatsapp ngga deliv , gue telpon ngga diangkat, bingung kan pasti jad...

#HANYA SUDUT PANDANG, Selembar Kain

Muslimah tentu tidak akan pernah terlepas dari yang namanya Hijab. Hijab merupakan ciri khas utama umat muslim kaum Hawa. Dalam Al-quran dan Hadist sangat tertera jelas bahwa berhijab atau lebih luasnya menutup aurat merupakan sebuah kewajiban bukan untuk trend semata, bukan untuk menarik perhatian, atau bahkan untuk menutupi sesuatu yang sangat tidak diinginkan, nauzubillah min dzalik . Untuk era modern seperti ini, banyak sekali model hijab yang mungkin saja dapat menyalahgunakan aturan yang tidak sesuai dengan yang diperintahkan didalam Al-quran dan Hadist. Sebagian umat muslimah yang mengerti maka akan menggunakan hijab sebagaiman mestinya, tapi bagaiman dengan muslimah (maaf) yang pengetahuan agamanya minim? Sungguh miris bukan? Itu tugas kita sebagaimana sesama saudara muslim, untuk sama-sama merangkul dan saling menegur saat diantara kita berbelok ke jalan yang tidak diridhoi-Nya. Namun, tak jarang muslimah berhijab dengan tujuan yang lain, bukan karena lillahi ta'...