Kulihat jarum jam yang terus
bergerak pada pergelangan tanganku, lima menit lagi kereta itu tiba di Stasiun
Tugu. Hingga akhirnya lima menit itu berlalu begitu saja tanpa pemberitahuan
kepadaku. Dengan perasaan gelisah serta rindu yang membubung, aku memberanikan
diri untuk berdiri tepat di pintu kedatangan. Orang-orang berlalu lalang di
hadapanku, membuatku semakin bingung mencari orang yang kutunggu.
“Hai!” sapanya, yang tiba-tiba saja
sudah berada di sampingku.
Aku
bergeming, benar-benar setengah melamun memperhatikan orang yang berdiri di
hadapanku, rasanya seperti mimpi melihatnya nyata tepat di hadapanku seperti
ini.
“Kok malah ngelamun? Enggak kangen
ya?” tanyanya, yang kubalas dengan memeluknya erat. Masa bodo dengan orang yang
memperhatikan kami.
“Masih sama ya kamu!” ujarnya, aku
menguraikan pelukan.
“Apanya?” tanyaku, tidak mengerti.
“Malu-maluin, hahaha” cibirnya lalu
mencubit pipiku gemas.
Masih dalam ramainya pintu
kedatangan, aku dan Langit seakan memiliki dunianya sendiri, benar-benar tidak
peduli akan orang lain yang sedang mengantre keluar Stasiun, hingga tak sengaja
aku menyenggol salah satunya yang sedang mengantre tepat di belakangku.
“Maaf, maaf, tidak seng—“ bicaraku
tiba-tiba saja terhenti, ketika melihat siapa orang yang tak sengaja kusenggol
itu. Mirip dengannya, atau betul itu memang dia, entahlah.
“Nunu?” panggilku, memastikan orang
tersebut. Ia pun juga sama bingungnya sepertiku, memperhatikanku lekat-lekat,
mungkin juga ia takut salah orang.
“Jingga? Iya, lo Jingga kan?” ujarnya,
membuatku tersenyum. Ia masih ingat denganku.
“Iya Nu. Jadi, ini benar Anugrah? Si
pelit saat sedang ujian itu?” timpalku, ia
hanya tertawa, lalu mengulurkan tangan.
“Apa kabar Jingga si penanya saat
ujian, padahal sudah diberi kode jawaban, tapi masih tidak bisa mengartikan?”
imbuhnya tergelak, lalu menertawakanku.
“Sialan
kau Nu! Hahaha, kabarku baik seperti yang kamu lihat sekarang” jawabku,
menyambut uluran tangannya, lalu kami tertawa bersama, hingga aku nyaris
melupakan Langit yang sedari tadi kebingungan.
“Eh
iya lupa, kenalkan ini—“
“Gebetan
lo kan? Ciee, bentar lagi jadian” tebaknya, memotong ucapanku.
“Sok
tau, dia ini pa—“
“Gue
Langit, calon suaminya Jingga” ucap Langit datar, Anugrah atau yang biasa kupanggil Nunu itu langsung terkesiap.
“Eh,
iya. Hai, bro” sapa Nunu mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Langit.
“Salam kenal, gue Anugrah teman SD nya Jingga dulu” imbuh Nunu, menjelaskan.
Beberapa
detik keheningan menyelimuti kami, hingga Nunu akhirnya lebih dulu
meninggalkanku dan Langit, ketika melihat antrean yang mulai renggang.
“Duluan
ya, Ngga, Ngit. Sampai ketemu lagi, daah!” pamit Nunu, lalu melambai dan
meninggalkan kami.
Tak
lama, Langit menyusul berjalan keluar Stasiun mendahuluiku. Eh—kok aku yang
jemput, aku yang ditinggal?
“Langit!”
teriakku, memanggilnya yang mulai menjauh.
“Langit,
tunggu dong! Kok aku yang ditinggal sih?” gerutuku, ketika aku berhasil
menyejajarkan langkah kakinya. Namun Langit tetap diam seribu bahasa, berjalan
mengarah Halte Transjogja terdekat. Aku hanya mengekorinya di belakang.
“Kok aku ditinggal sih?”tanyaku,
bersamaan dengan Bus Transjogja yang tiba di Halte. Bukannya menjawab Langit
hanya menggandeng tanganku memasuki Bus, lalu menuntunku untuk duduk pada kursi
yang masih kosong.
Lagi, lagi aku dicuekin. Ia masih
diam berdiri tepat di depanku. Aku mendongak untuk menatapnya, tapi matanya sama
sekali tidak membalas tatapanku. Kurasa jalanan Jogja lebih menarik kali ini
di matanya daripada aku.
Baiklah aku diam saja, batinku
memberitahu.
Seharusnya pemecah rindu setahun tak
bertemu bukan begini ceritanya. Apa iya Langit cemburu dengan Nunu yang hanya lima menit berbicara kepadaku setelah hampir sepuluh tahun tidak bertemu?
Transjogja kembali berhenti, tepat
di mana lokasi yang kami tuju. Tanpa menunggunya turun terlebih dahulu, aku
berjalan mendahuluinya menuju warung gudeg Mbok Iyem, yang terkenal rasanya
enak di daerahku.
“Mbok Iyem pesan gudeg sama es teh
susu satu ya” pesanku, usai menarik kursi di hadapannya.
“Siap Mbak Jingga. Kalau Mas-nya pesan
apa?” ujar Mbok Iyem, kembali beralih menatap Langit di sampingku.
“Samakan saja ya Mbok” ucap Langit,
lalu kami kembali diselimuti keheningan.
“Seharusnya nih ya, seharusnya—“
kataku tiba-tiba, kulihat dari ekor mataku, Langit menoleh kepadaku.
“Setelah setahun menabung rindu,
memecahkannya tidak begini lho. Diam-diaman, kay—“
“Kamu yang mulai duluan” kata Langit
membalas ucapanku, akhirnya ia menimpali.
“Aku? Ngapain coba? Kamu cemburu sama
Nunu? Hei, kamu kaya bukan Langit yang aku kenal deh. Dia itu teman lama, udah sepuluh tahun kami enggak ketemu, nggak komu—“
“Ya tapi enggak begitu juga caranya
Ngga, yang baru samp—“
“Ini pesanannya Mbak Jingga,
Mas-nya” kata Mbok Iyem mengantarkan pesanan kami. “Lho, apa ini calon suami
yang Ibunya Mbak Jingga ceritakan itu?” imbuh Mbok Iyem, ketika melihat kami
berdialog, aku hanya menggangguk saja.
“Walah, cowok Jakarta begini tho rupanya, bagus tenan”
“Saya di Jakarta cuma numpang kuliah
Mbok, asli Solo” kata Langit menimpali Mbok Iyem.
"Walah begitu, yowis, monggo niki pesanannya Mbak, Mas, saya ke belakang dulu
lanjut masak” Mbok Iyem pamit ke belakang, kami hanya mengangguk dan tersenyum
ramah.
Lagi-lagi kami diselimuti
keheningan, makan dengan tenang tanpa adanya obrolan atau bahkan penyelesaian
kesalahpahaman. Usai menghabiskan sepiring gudeg, aku meneguk es teh susu
hingga setengah gelas, hingga Langit akhirnya mau kembali bicara.
“Sorry
ya. Aku enggak bermaksud membuat
pertemuan kita hari ini jadi berantakan. Tapi aku hanya kesal saja, sempat,
kamu cuekin tadi” aku refleks menoleh kepadanya.
“Ya, habisnya, aku juga baru saja
tiba dari Jakarta, baru sebentar berbincang, bahkan bertanya kabar saja
sepertinya belum tapi di—“
“Ssst, aku yang minta maaf ya. Aku
yang salah” ucapku memotong penjelasan Langit.“
"Engga, aku yang kekanak-kanakan
tadi, jadi, aku yang salah Ngga. Maaf ya” ujarnya tersenyum lalu mengacak
rambutku. Aku mengangguk dan membalas senyumannya, refleks kembali memeluknya
lagi. untung saja warung Mbok Iyem sedang tidak ramai jadi lanjutkan saja.
“Ekhemm!”
Aku
melepaskan pelukan begitu saja, ketika suara deheman itu menginterupsi kami.
Aku menoleh ke belakang, di mana sumber suara itu.
“Kalau mau mesra-mesraan tunggu
halal dulu kenapa sih? Ora patut”
Yap!
Dia adalah kakak laki-laki posesifku. Mas Rendra namanya.
“Tau nih, Langit kangen aku banget
katanya Mas, hehehe” kilahku, Langit hanya tersenyum, lalu bersalaman dengan
Mas Rendra, kemudian aku mengikuti hal yang sama.
“Halah, wong yang meluk itu kamu kok. Kamu aja yang ndak sabaran. Orang rumah udah nungguin, tau-taunya sudah makan
duluan”
Aku hanya nyengir. Lalu, kami
berpamitan pada Mas Rendra untuk mendahului menuju rumah. Kami menaiki becak
yang mangkal tak jauh dari warung Mbok Iyem. Butuh 15-20 menit untuk sampai ke
rumahku, jika menaiki becak.
“Gimana Jakarta? Semakin baik kah?”
tanyaku dalam perjalanan.
“Ya seperti yang kamu lihat
di berita. Masih sama. Macetnya, polusinya, dan segala macam keluhan tanpa rasa
syukur pada semesta”
Saat ini aku hanya mendengarkan
cerita Langit tentang semua yang ia alami, menjawab sesekali apa yang ia
tanyakan. Karena rasanya sore ini masih seperti mimpi, sebab, Langitku tlah
kembali, dan sebentar lagi takkan pergi lagi.
“Nduk, itu bakpianya sudah kamu buka
belum? Jangan sampai lupa nanti basi” teriak Ibu dari teras belakang rumah.
“Sudah
kok Bu, ini sudah Jingga taruh di piring” sahutku dari dalam dapur.
“Lho,
kok kamu tho? Mbak-mu kemana? Duh,
bisa hujan deras nanti ini kalau kamu ikut masak” seloroh Ibu, merebut bakpia
dari tanganku lalu menyusun kembali dalam piring-piring. “Kamu tuh mbok yo di kamar saja tho Nduk”
“Mbak
Ayu lagi di luar Bu, tadi dipanggil Mas Rendra katanya Sakala rewel nyariin
Ibunya. Lagian kenapa sih Bu—“
“Wis ndak usah banyak ngomong. Sekarang
putar balik maju jalan masuk kamar” titah Ibu memutar tubuhku paksa menuju
kamar. Aku hendak menyahuti lagi, namun Ibu tetaplah Ibu yang cerewetnya tak
bisa ditandingi siapa pun.
Sejak
pagi tadi, orang rumah dan keluargaku yang lain sibuk berkemas dan bebenah
jelang pernikahan esok hari. Segala sesuatunya, mulai dari yang kecil hingga
besar dipersiapkan bersama-sama, kecuali aku. Aku yang dikurung di kamar tidak
boleh menyentuh apa pun pekerjaan yang sedang terjadi di rumah itu, apalagi
jika harus keluar rumah.
Entahlah
aku juga tidak mengerti, apa hubungannya campur tanganku pada masakan, yang
katanya akan membuat turun hujan. Lalu
hubungan campur tanganku pada pekerjaan rumah lainnya, yang katanya juga bisa
merubah wajahku ketika bertemu suami nanti. Aku tidak mengerti, tapi yang pasti
menuruti kata orang tua sudah menjadi pilihan terbaik bukan?
Dan
di sinilah aku, di kamarku, dengan drama korea yang sudah kuputar berulang
kali. Dengan mencoba tidak bosan dan menikmati apa yang tersaji. Hingga entah
kapan mataku tertutup untuk pergi ke alam mimpi
“Ngga?
Jingga? Bangun” sayup-sayup kucium aroma minyak kayu putih dengan suara lembut
seseorang membangunkanku.
“Eghh..
aku di mana?” lirihku, perlahan-lahan membuka mata.
“Kita
di kamarku. Eh mau kemana?” tanyanya, ketika melihatku hendak bangun dari
pembaringan “Udah istirahat aja, akadnya sudah selesai kok” imbuhnya, lalu
mengusap kepalaku dengan lembut. Tersadar ada yang tertinggal, aku benar-benar
langsung berdiri untuk mencarinya.
“Kamu
cari apa? Sakala?” aku hanya mengangguk panik, saat tanganku hendak memutar handle pintu, lenganku lebih dulu
ditahan olehnya.
“Sakala
sudah sama Ibunya, sebelum kamu pingsan, anak itu sudah lebih dulu berpindah ke
Ibunya. Kamu tenang saja ya” ucapnya, sembari memelukku sangat erat. Hingga
buliran bening kembali membasahi pipiku.
“Maaf ya selalu merepotkanmu, seharusnya aku
mengikuti saja perintahmu tadi untuk tidak hadir di acara akad nikah sepupumu
itu, pasti kacau deh acaranya gara-gara aku” gumamku, dan dapat kurasakan
kepalanya yang bertopang diatas kepalaku menggeleng, lalu tangannya mendongakkan
wajahku.
Sebelum
ia bertanya, aku lebih dulu menyela ucapannya. Meski dengan terbata, pertanyaan
ini harus tersampaikan. Harus!
“Tap—pi
akadnya jadi kan? Mak—maksudku calon suami sepupumu dan keluarganya baik-baik
saja kan?” sebelum melanjutkan ucapannya yang terpotong olehku tadi, ia hanya mengangguk
dan menyunggingkan senyum.
“Apa pun, dan sampai kapan pun, kamu tidak
akan pernah merepotkanku Jingga. Kamu kebahagiaan utuh untukku” ujarnya lembut
menatap mataku penuh keteduhan, yang seketika saat itu kembali membuatku menangis.
Ah, siapa sih yang
menaruh bawang disini!
“Siap!
Aku sudah siap sekarang. Ayo ant—”
“Tidak
sekarang Jingga. Masih banyak waktuku untuk—”
“Aku
benar-benar sudah siap sekarang. Aku tidak bohong” kataku, memotong ucapannya,
berharap kali ini dia benar-benar percaya atas ucapanku yang kesekian ini.
Setelah
perdebatan beberapa menit di kamarnya tadi, akhirnya ia benar-benar kembali
mempercayaiku untuk mengantarku ke tempat ini. Rasa-rasanya aku akan berhasil
ketika sepanjang perjalanan tadi, aku tidak memintanya putar balik menuju
rumah.
Namun
sekarang, saat kedua kakiku baru saja turun dari mobil, rasanya sudah tak mampu
lagi menopang tubuhku, sama seperti saat itu. Saat di mana aku merasa duniaku
mati dalam hitungan jari.
“Kalau
kamu belum siap, kita bisa pul—“
“Siap
kok, ayo temani dan tunjukkan di mana rumahnya” ujarku menggandengnya, ia hanya
tersenyum dan menuntunku berjalan beriringan dengannya.
Entah
yang mana rumahnya, kami sudah melewati tiga gang, dan perasaanku semakin tak
terkendali. Mencoba untuk tetap biasa saja, tapi..
“Rumahnya
sebelah kanan, yang kelima dari sini”
“Kamu enggak ikut?” tanyaku yang membuatnya mengerutkan dahi. “Kamu ikut saja, temani
aku” imbuhku lalu kembali mengamit lengannya dan kembali melanjutkan langkah.
“Sudah
sampai” gumamnya dengan nada jenaka, lalu melepaskan kaitan tanganku pada lengannya.”Sekarang
lakukan apa yang ingin kamu lakukan, serta sampaikan apa yang ingin kamu
sampaikan, semua harus sesuai dengan keinginanmu ya. Tetap tenang, aku ada
di belakangmu” imbuhnya.
Aku
menarik napas dalam-dalam, pelan tapi pasti aku mengangguk, dan melakukan apa
yang dimintanya.
“Halo,
sudah lama ya” gumamku bermonolog. “Aku enggak tahu apa yang menyebabkanku baru
ke sini setelah tiga tahun lamanya” Aku belum bergerak masih memandangi namanya. “Aku enggak tahu maksud Semesta apa sampai menghukumku seperti ini. Mungkinkah aku ada
salah di masa lalu? Entahlah, aku memang tempatnya salah bukan? Hehe” Dengan
pelan tapi pasti kucoba untuk mengusap batu yang mengukir namanya dengan
indah.
“Tapi
kamu tenang saja, meskipun begitu, aku tidak pernah membenci Semesta, karena
jika tanpa campur tangan-Nya aku tidak akan menemukan kompasku lagi. Begitu
juga padamu, aku baru ke sini setelah kejadian itu bukan berarti aku tidak
menyanyangimu, sungguh aku sangat menyanyangimu, hingga setiap usai sholatku,
selalu kusebut namamu sebagaimana dulu saat aku meminta Semesta menjadikanmu
milikku” aku mulai terisak pelan, sungguh aku benci aku yang seperti ini! Aku
diam sejenak, untuk menahan air mata sebelum kembali merangkai kata.
“Jangan
ditahan, tumpahkan saja semuanya di sini. Ada aku” katanya, merangkul bahuku,
yang semakin bergetar tak kuasa menahan tangis.
“Saat
ini, kalau kata seseorang di sampingku ini, aku harus datang ke rumahmu. Dan
katanya juga aku harus lakukan dan sampaikan apa yang aku inginkan. Tadi aku
sudah menyampaikan, lalu sekarang aku ingin lakukan. Boleh ya?” pintaku dengan
air mata yang sudah mengalir entah kapan, sedang rangkulan di bahuku semakin
kuat.
“Aku
ingin traumaku sembuh, dan dengan orang yang merangkulku ini, aku yakin trauma
itu dapat terobati serta aku juga yakin hanya dia yang mampu menuntunku kembali
pulang setelah sebelumnya tersesat karena kompasku hilang. Karena tidak mungkin
bukan aku terus-terusan pingsan saat melihat akad nikah orang? Malu tahu!”
kataku jenaka mencoba menghibur diri sendiri “Terakhir, aku ingin mengucapkan
selamat tinggal, selamat bertemu pada alam yang sama dan entah kapan. Terima kasih
sudah menjadikanku jingga di langitmu yang indah. Seperti lagu Sheila On 7,
kamu anugrah terindah yang pernah kumiliki, hehehe” kataku kembali mencoba
menghibur diri diiringi tawa, yang justru mendapat toyoran lembut dari
sebelahku.
“Di
pemakaman jangan bercanda, diikutin baru tahu rasa kamu” bisiknya.
Sebelum
beranjak, aku mengirimkan doa, menabur bunga juga air mawar pada rumahnya yang
semakin indah karena tumbuhan kamboja yang hidup di sampingnya. Kami berjalan
dalam keheningan menuju parkiran, sesekali aku memperhatikan orang disampingku
bergantian dengan jalanan. Entah apa yang
ada dipikiranku, hingga menyia-nyiakanmu dua tahun terakhir ini. Batinku
bergumam tulus, ada rasa kelegaan disana.
Dia
membuka pintu penumpang untukku, saat kembali ingin menutupnya, tangannya kutahan, dan spontan mata kami bertemu. Aku menatapnya dalam, sangat dalam.
Hingga air mataku saja tak mampu menebus kesalahan karena tlah menyia-nyiakan
ketulusannya ini.
“Aku
lega, terima kasih ya.” ujarku, ia hanya mengangguk lalu tersenyum, hendak
menutup pintu lagi, namun kutahan kembali.
“Terima
kasih sudah menerimaku yang banyak kurangnya ini, terima kasih sudah mau
menjadi anugrah indah yang kumiliki” tak ada jawaban, tak ada gerakan setelah
beberapa detik berlalu, hingga akhirnya ia memelukku.
“Aku
yang harusnya berterima kasih karena Semesta merestui kita, menjadikanku
benar-benar Anugrah yang beruntung ada di dunia ini.” Ujarnya, dan aku semakin
erat memeluknya.
“Tapi
aku sudah menyia-nyiakan dua tahun ketulusanmu Nu, apa kamu enggak marah sedikit
pun sama aku? Luapin aja Nu sekar—“ kataku, melerai sedikit pelukannya, lalu
kembali mendongak menatap mata teduhnya. Bukannya marah kepadaku, Nunu justru
kembali membuatku menjadi wanita yang beruntung ada disisinya.
“Ssstt…
harus kuulang berapa kali sih buat yakinin istriku ini” pungkasnya kembali
menarikku dalam dekapannya “Dengar ya, istriku Jingga, aku Anugrah Aji Putra menyatakan, enggak pernah marah sama kamu. Sama se-ka-li” tekannya, lalu mengusap lembut
kepalaku. “Sekali pun harus seumur hidupku, bahkan sampai surga-Nya nanti, aku
akan berusaha tetap ada untukmu, karena aku tahu saat ini Semesta saja sudah
yakin kepadaku, mengapa aku harus marah apalagi ragu. Seperti kata pepatah people change, but, memory don’t. So, don’t
cry, everything gonna be okay Jingga” imbuhnya yang kali ini megecup
keningku lama penuh sayang, serta membuatku semakin bersyukur dan akan terus bersyukur berada dalam dekapannya.
Semesta, terima kasih
ya atas semua skenario indah-Mu. Terima kasih tlah memberikanku awan cerah
untuk menghiasi langit yang semula kurasa gelapnya tak mungkin meninggalkanku.
Aku menyadari bahwa hidup tak melulu soal keinginanku. Aku tahu, Kau lebih
menyanyangi Langit, jaga dia disisi-Mu ya Semesta. Berikan dia bidadari surga
terindah-Mu. Aamiin.
Komentar
Posting Komentar